“Budaya Sulawesi Memandang Keadilan Gender”

Muhammad Darwan
Kader PITD 2018

Konsep mengenai gender haruslah dipahami dengan baik agar tidak salah dalam memandang seperti apa itu kesetaraan gender atau keadilan gender. Dalam memahami konsep gender, kita harus mengesampingkan konsep seks dalam diri manusia, seks dalam diri manusia lebih mengarah ke bentuk fisik atau bentuk manusia secara biologis. Jika dipandang dari sudut pandang jenis kelamin manusia, maka kita akan mendapatkan beberapa perbedaan yang mendasar dalam bentuk fisik dari tubuh manusia.Laki-laki adalah manusia yang memiliki penis dan sperma, sedangkan wanita memiliki Rahim dan vagina.

Sedangkan konsep mengenai gender merupakan sebuah sifat yang melekat pada diri setiap manusia baik pada kaum laki-laki maupun pada kaum perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural. Konsep yang dimaksud ini adalah mengenai perempuan yang diidentikkan dengan lemah lembut, cantik, keibuan, dan emosional.Kemudian laki-laki yang sangat diidentikkan dengan kuat, perkasa, rasional, dan jantan.

Berbeda dengan konsep seks, konsep gender ini lebih mengacu kepada sifat manusia. Hal ini pun dapat berubah-ubah tidak semuanya mutlak untuk dimiliki laki-laki maupun perempuan.Sifat tersebut dapat bertukar, contohnya ada laki-laki yang memiliki perasaan yang lemah lembut danada perempuan yang kuat dan perkasa.Gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dengan perempuan dari segi sosial-budaya. Studi gender lebih menekankan perkembangan aspek maskulinitas atau feminitas seseorang.

Jika berbicara tentang gender dari sudut pandang kebudayaan, terutama dari kebudayaan masyarakat di Pulau Sulawesi, ada beragam bentuk kebudayaan mengenai gender. Kesetaraan gender dalam beberapa kebudayaan masyarakat Sulawesi menggambarkan peran perempuan lebih banyak untuk mengurus urusan rumah tangga. Sedangkan laki-laki lebih mendominasi ruang publik.

Kebudayaan masyarakat Makassar mengungkapkan bahwa perempuan dianalogikan sebagai Butta “Tanah” dan laki-laki dianalogikan sebagai Langiq “Langit”.Perempuan dianalogikan sebagai tanah merupakan sumber dari kehidupan manusia. Tanah diidentikkan dengan kesuburan dan tanpa kehadiran perempuan di dunia ini, maka tidak akan ada kehidupan. Kemudian laki-laki diidentikkan dengan langit yang memberikan hujan atau air ke bumi.

Simbolisasi “tanah” bagi perempuan dan “langit” bagi laki-laki merupakan sebuah relasi gender dalam hubungan suami isteri. Dengan kata lain mereka saling bekerja sama dalam urusan rumah tangga. Tanah tidak akan subur tanpa hujan dan hujan tak akan berguna tanpa tanah.

Dalam cerita rakyat masyarakat Makassar juga menganalogikan perempuan sebagai Ballaq “Rumah” dan laki-laki sebagai Bukkuruq “Merpati”.Perempuan dianalogikan sebagai rumah kerena rumah merupakan tempat untuk melanjutkan keturunan dan laki-laki yang dianalogikan sebagai merpati yang lebih banyak menghabiskan waktu berada di luar rumah dengan bertengger di atap rumah.Ini merupakan sebuah analogi untuk menggambarkan bentuk kesetiaan seorang isteri kepada suami dan begitu pula sebaliknya. Konsep lain yang juga menjadi pengandaian perempuan dan laki-laki adalah perempuan sebagai Labuang “pelabuhan” dan laki-laki sebagai Bisseang “perahu”. Makna dari hal ini adalah perempuan itu bersifat pasif dan laki-laki sebagai perahu bersifat petualang yang bebas di laut lepas.


Ketika memahami teks cerita rakyat yang sangat kaya akan makna tersebut, maka orang dapat berpendapat bahwa itu adalah sebuah bentuk penghargaan terhadap perempuan dengan memposisikan mereka untuk tetap berada di rumah dan kaum lelakilah yang berada di luar dan berinteraksi dengan dunia luar.

Selain dari kebudayaan Masyarakat Makassar dengan beragam penganalogian terhadap kesetaraan gender, salah satu suku yang berada di Pulau Sulawesi bagian Barat juga memiliki sebuah konsep dalam memandang kesetaraan gender. Suku Mandar dalam memandang kesetaraan gender dapat kita lihat dalam konsep Sibaliparriq

Menurut Arifuddin Ismail, sibaliparriq merupakan bekerja bersama antara suami dan istri karena mereka sama-sama memikul beban tanggungjawab dalam keluarga terutama dalam pada pemenuhan kebutuhan hidup. Konsep ini juga berusaha melihat seperti apa pembangunan masyarakat yang berada disekitar lingkungan hidup kita.

Menurut Jubariah, dkk, mengenai konsep sibaliparriq sebagai konsep kebersamaan, kegotongroyongan, atau pun kesetaraan dalam rumah tangga dan dalam masyarakat. Dengan melihat penjelasan mengenai konsep sibaliparriq tersebut, maka kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa konsep ini adalah sebuah bentuk kerja sama antara pria dan wanita terkhusus antara suami dan istri demi mencapai kesejahteraan dengan saling membagi kesulitan.

Konsep sibaliparriq ini juga menggambarkan pembagian porsi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial.Dari konsep ini menggambarkan bahwa perempuan bertugas di rumah dan lelakilah yang keluar rumah untuk mencari nafkah. Jadi seolah-olah laki-laki berjuang mendapatkan nafkah dan perempuan tinggal menuggu dirumah dengan berbagai tugas rumah yang ia harus kerjakan. Konsep ini jika kita lihat dari sudut pandang perempuan, maka akan muncul sebuah kecemburuan. Dimana kaum perempuan tidak memiliki kesempatan untuk memasuki ruang publik yang dapat menambah relasi dan dapat meningkatkan karir dari seorang wanita. sehingga mereka terlepas dari hal – hal yang berbau rumah tangga.

Keterlibatan kaum perempuan di dalam ruang publik bukanlah sebuah hal yang tidak mungkin.Dari konsep kesetaraan gender, wanita dan pria tidak memiliki perbedaan karena dalam berbicara sifat, maka tidak menutup kemungkinan kelembutan dimiliki oleh pria dan ketegasan dimiliki oleh kaum wanita.

Meningkatnya upaya pemiskinan terhadap perempuan di dalam dunia politik pun juga terjadi.Hal ini kemudian terjadi karena budaya ptriarkhi yang sangat mendominasi dalam wilayah politik.Seperti kita ketahui bahwa dalam masayarakat kita masih besar ketimpangan yang dialami oleh kaum wanita.Terjadinya marjinalisasi, yang terjadi dalam budaya maupun politik.

Keterlibatan wanita diruang publik dapat kita lihat dalam data kepala daerah di Indonesia yang berjenis kelamin wanita berikut ini yang dikutip dari laman Kompas.com yang dirilis pada senin 30 Juli 2018 :

“14 Perempuan yang Terpilih sebagai Kepala Daerah pada Pilkada Serentak 2018. Mereka itu diantaranya:

  1. Dewi Handjani (Bupati Tanggamus)
  2. Ade Munawaroh Yasin (Bogor)
  3. Anne Ratna Mustika (Purwakarta)
  4. Ade Uu Sukaesih (Banjar)
  5. Umi Azizah (Tegal)
  6. Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Jatim)
  7. Puput Tantriana Sari (Probolinggo)
  8. MundjidahWahab (Bupati Jombang)
  9. Anna Mu’awanah (Bupati Bojonegoro)
  10. Ika Puspitasari (Wali Kota Mojokerto)
  11. Iti Octavia Jayabaya (Bupati Lebak)
  12. Paulina Haning-Bullu (Bupati Rote)
  13. Erlina (Bupati Mempawah)
  14. Tatong Bara (Wali Kota Kotamobagu)

Data lain yang menyebutkan keterlibatan wanita dalam ruang publik adalah data yang dikutip dari laman Kompas.com bahwa menurut peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia, dari 575 orang anggota DPR RI yang dilantik pada tahun 2019, 458 orang diantaranya adalah kaum pria dan 117 diantaranya adalah kaum wanita. Jadi dapat kita lihat bahwa peranan perempuan dalam dunia politik telah mulai muncul walaupun masih sangat jauh dari dominasi kaum pria. Hal tersebut meningkat sebesar 22% dari pemilu 2014 yang hanya terdapat 97 orang perempuan yang duduk dalam parlemen.

Dari data yang disajikan di atas menggambarkan bahwa kaum perempuan juga bisa terlibat dalam ruang publik, sebagai penentu kebijakan dari suatu daerah.Walaupun jika dibandingkan dengan jumlah kepala daerah laki-laki masih sangat sedikit peranan perempuan dalam pemerintahan di Indonesia.


Dari beberapa contoh kebudayaan yang telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya, kita dapat melihat seperti apa kesetaraan atau keadilan gender dalam perspektif kebudayaan, terutama dalam kebudayaan masyarakat di Pulau Sulawesi.Bagi kebudayaan masyarakat Sulawesi, menjadikan perempuan sebagai ibu rumah tangga yang menguasai rumah dan berperan bagai tanah yang merupakan sumber dari kehidupan dan keturunan adalah sebuah bentuk penghargaan atas perempuan.

Kemudia para pria memiliki bagian yang berada di luar rumah yaitu melakukan perjalanan yang luas bagaikan perahu di lautan yang bebas melakukan perjalanan.Kemudian perempuan sebagai pelabuhan yang hanya disinggahi dan tidak bisa melakukan perjalanan bebas. Konsep sibaliparriq yang menjadi sebuah bentuk kerja sama atau saling melengkapi antara suami dengan istri pun juga memposisikan wanita untuk tetap berada di rumah untuk mengurus urusan rumah tangga.

Bentuk penghargaan terhadap perempuan yang dimaksud tersebut mejadi sebuah bentuk kesetaraan gender dalam perspektif budaya. Dimana kita memposisikan pria dan wanita sesuai dengan porsinya masing-masing menurut budaya tersebut. Namun, jika kita melihat dari sisi yang berbeda, makaakan didapatkan sebuah ketidakadilan dalam memperlakukan kaum wanita. Dimana mereka tidak bebas untuk melakukan aktivitas di ruang publik. Jadi jika hal demikian terus menerus ditafsirkan bahwa wanita adalah kaum yang lemah, keibuan, dan emosional, maka akan selamanya wanita termarginalkan oleh kekuasaan patriarki.

Pandangan ini bukan berarti akan menghilangkan kebudayaan seperti itu, malahan kita harus terus melestarikan kebudayaan yang masih sangat berguna bagi diri kita. Terutama dalam menjaga kaum perempuan dan laki-laki agar terhindar dari hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Sulawesi.

Dengan melihat peran wanita dalam kebudayaan tersebut, maka dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa dalam hal pengetahuan kehidupan sehari-hari, wanita lebih banyak tahu daripada kaum lelaki.Mulai dari kondisi rumah, anak, ekonomi keluarga, dan sebagainya maka wanita sangatlah berpeluang untuk terlibat dalam rana publik.Fungsi mereka adalah dapat memberikan banyak perubahan yang lebih baik dalam tatanan masyarakat karena mereka tahu banyak tentang kondisi keluarga.Jadi mereka dapat menjadi penentu kebijakan pula seperti kaum pria demi kesejahteraan.

Contoh lain juga ketika wanita yang sangat paham akan kondisi pertanian, maka mereka juga akan mampu memegang kendali dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan tetap mempertahankan kebudayaan perempuan dalam mengurus pertanian. Jadi dengan melihat potensi dalam diri seorang perempuan yang dibentuk oleh norma dan nilai budaya, wanita dapat menggunakannya itu untuk lebih berani terlibat di dalam ruang publik seperti politik, perekonomian, dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *