“TOLERANSI DAN PAHAM NASIONALISME SOEKARNO SEBAGAI KONSEP PEMERSATU BANGSA”

MUH. RIYADH MA’ARIF
Kader PITD 2020

Secara bahasa toleransi diadaptasi dari bahasa inggris tolerance yang berarti membiarkan. Dalam Bahasa Indonesia, menurut (KBBI: 2016) toleransi merupakan sifat atau sikap toleran, batas ukur untuk penyembahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan, dan penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja. Toleransi menurut istilah adalah sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta membolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian sendiri (W.J.S Purwadarminta). Menururt penelitian Verkuyten dan Yoogeswaran yang dipresentasikan pada seminar internasional Personality and Social Psychology Review (2017) toleransi terbagi atas tiga komponen utama, yaitu:

1. Objection, yakni tentang afeksi kita terhadap kelompok lain.

2. Acceptance, pertimbangan dalam suatu penerimaan suatu hal yang berbeda.

3. Rejection, penolakan atau perilaku manusia untuk menanggapi ketidaksetujuan atau perbedaan pandangan yang ada.

Indonesia merupakan negara pluralitas, sebagai negara yang berasal dari berbagai latar belakang ras, suku, budaya dan agama dengan sudut pandang mengenai perilaku atau tindakan dalam persoalan seharihari yang berbeda. Keragaman ini memicu berbagai macam konflik jika kita tidak menghadirkan rasa toleransi, sedangkan intoleransi merupakan sikap ketiadaan tenggang rasa (KBBI: 2016), intoleransi merupakan kebalikan dari toleransi . Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Setara Institute kasus intoleransi di Indonesia mengalami peningkatan pada tahun 2018 dibandingkan tahun 2017, Setara Institute mencatat pada Juni 3 2017 hanya terjadi 80 kasus pelanggaran dengan 99 tindakan sedangkan pada Juni 2018 angka mencapai 109 kasus pelanggaran. Sebagian besar kasus intoleransi ini didasarkan pada perbedaan beragama dan berkeyakinan, ada lima provinsi menduduki peringkat teratas dengan jumlah kejadian pelanggaran; DKI Jakarta sebanyak 23 kasus, Jawa Barat sebanyak 19 kasus, Jawa Timur dengan 15 kasus, DI Yogjakarta sebanyak 9 kasus dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan 7 kasus. Pew Research Center (2017) merilis data negara-negara paling religius di dunia, Infografis menjelaskan bahwa Indonesia berada pada urutan ke-2 Negara dengan tingkat regiulitas tertinggi dibawah Ethopia. Namun, menjadi negara dengan tingkat toleransi yang masih rendah pada hasil penelitian The 2015 Legatum Institute’s Prosperity Index, Indonesia menduduki ranking 123.

Perilaku toleransi merupakan faktor terpenting untuk memperkokoh jiwa nasionalisme masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat pada negara pluralitas karena toleransi mengambil peran penting dalam kehidupan bermasyarakat yang menegaskan sikap kebijaksanaan dalam keragaman di masyarakat, menciptakan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat, menghindari perpecahan dan konflik, menciptakan suatu kedamaian, ketenangan dan rasa aman.

Nasionalisme merupakan bagian terpenting dari konsep bernegara untuk menumbuhkan semangat rasa cinta tanah air. Menurut KBBI (2016) nasionalisme merupakan paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan. Menurut Soekarno, sebagai dasar untuk membangun kemandirian bangsa karena kemandirian bangsa tersebut adalah modal utama untuk mewujudkan citacita kemedekaan yaitu bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur yang terbebas dari segala bentuk penjajahan.

Untuk mencegah perilaku intoleransi sebagai Warga Negara Indonesia kita butuh pemahaman secara mendalam mengenai makna toleransi, memaknai pentingnya menumbuhkan jiwa nasionalisme, melakukan intropeksi diri, dan memahami perbedaan bahwa pada hakikatnya manusia terlahir berbeda.

A. Pengertian Toleransi

a. Penjelasan mengenai 3 poin utama dalam hasil penelitian Verkuyten dan Yogeeswaran, menurut seorang Psikolog Sosial Jony Eko Yulianto :

1. Objection, sejauhmana kita suka atau tidak suka dengan apa yang kelompok lain dengan kata lain objection merupakan toleransi pada tingkatan afektif atau sikap.

2. Acceptance, menurut Jony (seorang Psikolog Sosial) hal ini berkaitan dengan reaksi psikologis manusia dalam mempertimbangkan kelompok lain. Misalnya, ketika kita bersikap, apakah kita menganggap kelompok lain yang berbeda value itu kita anggap ada atau tidak. Dan, acceptance merupakan toleransi pada tingkatan proses psikologis

3. Rejection, ketika pada tingkatan perilaku yang ditampilkan apakah sampai pada diskriminasi atau inklusif.

b. Secara garis besar menurut pengertian Toleransi dari beberapa ahli, Toleransi dapat dibagikan atas 3 jenis, yaitu :

1. Toleransi Agama Hamka berpendapat bahwa semua manusia diberikan kebebasan oleh Allah SWT untuk memeluk agama apapun tanpa adanya paksaan. Hal ini sebagaimana yang diuraikan oleh Hamka dalam Tafsir AlAzhar QS. Al-Baqarah (2) : 256. “Tidak ada paksaan dalam agama. Telah nyata kebenaran dan kesesatan. Maka barangsiapa yang menolak segala pelanggaran besar dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya telah berpeganglah dia dengan tali yang amat 6 teguh, yang tidak akan putus selamalamanya. Dan Allah Maha Mendengar, lagi Mengetahui.”

2. Toleransi Budaya Toleransi dalam perbedaan budaya artinya adalah sikap saling menghargai budaya orang lain tanpa memandang rendah budaya tersebut. Jika toleransi dalam perbedaan budaya ini rusak, maka kerukunan masyarakat akan terganggu.

3. Toleransi Politik Toleransi yang menghargai setiap pandangan politik masyarakat yang berseberangan dengan kita, yang didasarkan pada hak-hak berpolitik setiap individu yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, serta menghargai dan mendukung setiap pimpinan yang terpilih melalui jalur politik selama tidak melanggar asas keadilan, persatuan, dan nasionalisme (yang diatur dalam perundang-undangan berlaku).

c. Manfaat menerapkan perilaku toleransi dalam kehidupan sehari-hari:

1. Meningkatkan Rasa Persaudaraan, sikap toleransi dalam diri seseorang akan menimbulkan kasih sayang di dalam dirinya sehingga rasa persudaraan terhadap sesama anak bangsa akan semakin besar. Dengan adanya rasa persaudaraan yang tinggi maka masyarakat secara umum akan terhindar dari perpecahan.

2. Meningkatkan Rasa Nasionalisme, sikap positif dan toleransi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan berdampak pada rasa nasionalisme seseorang. Dengan menyadari dan menerima bahwa Indonesia merupakan negara yang majemuk maka seseorang akan semakin cinta tanah airnya.

3. Meningkatkan Kekuatan dalam Iman, menghargai dan menghormati agama lain yang berbeda merupakan salah satu bentuk keimanan seseorang. Bisa dikatakan bahwa seseorang yang mampu bersosialisasi dengan orang lain yang berbeda budaya dan kepercayaan adalah orang yang memiliki iman yang kuat.

4. Memudahkan Mencapai Kata Mufakat, toleransi juga sangat diperlukan ketika dilakukan musyawarah untuk mencapai mufakat. Menghargai dan menghormati perbedaan pendapat orang lain akan membuat suatu masyarakat terhindar dari permusuhan dan pertikaian.

5. Memudahkan Pembangunan Negara, sikap toleransi setiap individu akan memudahkan proses pembangunan suatu negara. Hal tersebut terjadi karena adanya pemikiran bahwa perbedaan justru membuat suatu negara semakin kuat.

B. Pengertian Nasionalisme

Menurut Budiyono (2007:209-21), terdapat empat bentuk nasionalisme yaitu:

1. Nasionalisme kemandirian bangsa, merupakan semangat bernegara dibangun untuk mewujudkan kejayaan bangsa.

2. Nasionalisme agama, yaitu suatu gerakan yang berupaya untuk memperoleh kemerdekaan melalui semangat keagamaan.

3. Nasionalisme sekuler, merupakan suatu paham yang berupa untuk memperoleh kemerdekaan dengan tidak menyebutkan agama sebagai inspirasi gerakan, walaupun tidak menentang adanya peran agama dalam kegiatan politik.

4. Nasionalisme anti agama (komunis), merupakan nasionalisme anti agama tidak memberikan peran kepada agama bahkan agama tidak berperan dalam gerakan dan harus dijauhi.

Dalam perjalanan Indonesia menuju negara yang merdeka pada saat ini, yang dihadirkan dengan awal beragamnya Kerajaan dengan 8 peraturan adat istiadat dan kebudayaan yang berbeda menjadi sebuah tantangan besar untuk menyatukan tekad Kemerdekaan sebuah Negara Indonesia, untuk merangkul semua perbedaan ini kita membutuhkan toleransi sebagai tonggak utama menumbuhkan jiwa Nasionalisme kita terhadap bangsa dan negara.

C. Konsep Toleransi Ir. Soekarno

Ada dua hal yang melatarbelakangi munculnya nasionalisme menurut pemikiran Soekarno, Pertama, adanya keinginan suatu bangsa untuk melepaskan diri dari penjajahan. Keinginan ini muncul karena adanya perasaan senasib, sepenanggungan dan sependeritaan di bawah penjajahan bangsa lain. Dengan demikian, bahwa nasionalisme di Indonesia itu lahir dan berkembang sebagai fenomena yang menentang penjajahan oleh satu bangsa atas bangsa yang lain. Kedua, rasa persatuan dan cinta tanah air tanpa menonjolkan perbedaan yang ada dalam masyarakat. Lahirnya pergerakan Budi Utomo pada tahun 1908 dan peristiwa ikrar Sumpah Pemuda pada tahun 1928 merupakan akar dari semangat perjuangan menuju gerbang kemerdekaan.

Ir. Soekarno sebagai peolopor Nasionalisme seklaigus sebagai proklamator kemerdekaan Negara Indonesia menyuguhkan makna konsep Nasionalisme. Konsep Nasionalisme yang ditawarkan oleh Ir. Soekarno merupakan konsepsi yang menggambarkan semangat yang lebih untuk kesejahteraan dan kemajuan nasional sehingga menjadi suatu gerakan sosial atau aliran rohaniah yang dapat mempersatukan rakyat kedalam bangsa yang membangkitkan massa dalam keadaan politik dan sosial yang aktif maka dengan ini negara menjadi milik seluruh rakyat sebagai keseluruhan. Secara obyektif, nasionalisme mengandung unsur-unsur seperti bahasa, ras, etnik, agama, peradaban, wilayah, negara dan kewarganegaraan. Ini merupakan faktorfaktor atau unsur-unsur pokok nasionalisme yang objektif dan sangat kuat membentuk nasionalisme serta membantu mempercepat proses evolusi nasionalisme ke arah pembentukan negara nasional.

Nasionalisme Indonesia yang dalam perkembangannya mencapai titik puncak setelah diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, berarti bahwa pembentukan kebangsaan Indonesia berlangsung melalui proses sejarah yang panjang. Timbulnya nasionalisme Indonesia mempunyai kaitan erat dengan kolonialisme yang sudah beberapa abad berkuasa di Indonesia. Nasionalisme sebagai gejala historis telah berkembang sebagai jawaban terhadap kondisi politik, ekonomi dan sosial yang khusus yang ditimbulkan oleh situasi kolonialisme. Antara nasionalisme dan kolonialisme tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebab terdapat hubungan timbal balik antara nasionalisme yang sedang berkembang dan berproses dengan politik dan ideologi kolonial. Pada situasi kolonial, nasionalisme dianggap sebagai kekuatan sosial yang mempunyai orientasi terhadap masa depan sedangkan ideologi dan politik kolonial melihat masa lampau. Usaha untuk menolak kolonialisme inilah yang merupakan manifestasi dari penderitaan dan tekanantekanan yang disebut dengan nasionalisme. Melalui keinginan bersama yang didasarkan oleh persamaan kepentingan itu akhirnya menciptakan nasionalisme Indonesia.

Untuk membangkitkan jiwa nasionalisme menurut Soekarno ada tiga hal yang harus dilakukan, yang diucapkannya sewaktu sidang dalam Indonesia Menggugat di depan sidang Belanda (Bandung,1930), yaitu :

1. Pertama, kami menunjukkan kepada rakyat bahwa ia punya hari dulu, adalah hari dulu yang indah.

2. Kedua, kami menambah keinsyafan rakyat bahwa ia punya hari sekarang, adalah hari yang gelap.

3. Ketiga, kami memperlihatkan kepada rakyat sinarnya hari kemudian yang berseri-seri dan terang cuaca, beserta cara-caranya mendatangkan hari kemudian yang penuh dengan janji-janji itu.

Dalam kaitan ini, Soekarno berpandangan bahwa syarat terbentuknya nasionalisme itu adalah kehendak untuk bersatu. Dengan perkataan lain, Soekarno memahami nasionalisme itu sebagai suatu gagasan pemersatu yang potensial yang dapat mempertemukan adanya perbedaan yang saling bertentangan dalam masyarakat Indonesia. Secara filosofis, Soekarno meyakini bahwa persatuan merupakan tali persaudaraan yang menjadi pengikat umat manusia di dunia untuk hidup rukun, damai dan sejahtera. Nasionalisme merupakan gejala yang lahir dari semangat anti penjajahan. Nasionalisme bukan sematamata hanya sebatas bentuk ungkapan tanpa sebab-sebab yang jelas. Nasionalisme mendefinisikan musuh-musuhnya berupa suatu kekuatan yang dianggap menyerang dan mengancam keberadaan masyarakat suatu bangsa.

D. Kaitan Dampak Sebab-Akibat Toleransi dengan Nasionalisme

Peningkatan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai luhur budaya bangsa adalah sarana untuk membangkitkan semangat nasionalisme yang dapat dilakukan dengan senantiasa memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa dan bernegara dalam kehidupan bermasyarakat. Dan toleransi sebagai perwujudan kehendak bangsa untuk bersatu dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia merupakan suatu unsur yang penting dalam mewujudkan keutuhan, kesejahteraan, keamanan, dan kemakmuran bangsa.

Menurut Bamsoet (Ketua MPR), perlunya bekerja sama dengan lembaga dan institusi keagamaan sebagai upaya memahami akar permasalahan agar lebih komprehensif. Dia mengatakan akan menjadi ideal jika rumusan program dan model pendekatan baru itu dilandasi kemauan baik saling merangkul dalam konteks sesama anak bangsa, untuk kemudian berdialog. Jika ada kontinuitas dialog, kata dia, perilaku intoleran menjadi tidak relevan lagi. “(Karena) Pada saat yang sama, ada kekuatan lain yang menunggangi kecenderungan itu dengan mengerahkan pelaku teror. Kini, teror terhadap negara sudah menjadi ancaman nyata yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Inilah realitas masalah atau persoalan yang dihadapi Indonesia dewasa ini,” (13/10/2019).

Dari kutipan Ketua MPR-RI mengenai bahaya ancaman dari perilaku intoleran secara nyata membuktikan adanya benang merah antara stabilitas kemanan bangsa dengan perilaku ini, ancaman yang berasal dari internal bangsa yang butuh perhatian lebih dari pemerintah. Dapat disimpulkan bahwa pentingnya ketegasan regulasi dari pemerintah dalam mengatasi tindakan seperti ini.

Dari kutipan Ketua MPR-RI mengenai bahaya ancaman dari perilaku intoleran secara nyata membuktikan adanya benang merah antara stabilitas kemanan bangsa dengan perilaku ini, ancaman yang berasal dari internal bangsa yang butuh perhatian lebih dari pemerintah. Dapat disimpulkan bahwa pentingnya ketegasan regulasi dari pemerintah dalam mengatasi tindakan seperti ini.

E. ANALISA SINTESA

Toleransi dengan konsep nasionalisme yang ditawarkan oleh Ir. Soekarno sangat berpengaruh pada afeksi, penerimaan, dan penolakan terhadap cita-cita kemandirian bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur, dan menghargai keberagaman. Kurangnya nilai toleransi berpotensi terjadinya kesenjangan oleh kaum mayoritas kepada kaum minoritas.

Kesenjangan ini memicu hilangnya nilai-nilai nasionalisme yang tidak lagi mengakui bahwa Indonesia terlahir dari beragam suku, agama, budaya, dan ras. Hal seperti ini dapat melahirkan bibit-bibit radikalisme, terorisme, dan perpecahan Republik Indonesia, yang mencoreng ideologi bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Erwanti, M.A. (2019, 13 Oktober). Bamsoet Meminta Pemerintah Perbarui Rumusan untuk Berantas Intoleransi. Diakses pada 12 November 2019, dari https://news.detik.com/berita/d-4744158/bamsoet-minta-pemerintah-perbaruirumusan-untuk-berantas-intoleransi

Gunawan, H. (2015). Toleransi Beragama Menurut Pandangan Hamka dan Nurcholis Madjid. Ushuluddin. Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Surakarta. http://eprints.ums.ac.id/39805/

Mawangir, Muh. (2016). Soekarno Dan Pemikirannya tentang Agama, Politik, Dan Pendidikan Islam. Jurnal Ilmu Agama. 17(1). 139-145. e-ISSN: 2549- 4260. http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/JIA/article/view/643

nasional.tempo.co. (2018, 20 Agustus). Setara Institute: Intoleransi terhadap Keyakinan Meningkat. Diakses pada 12 November 2019, dari https://nasional.tempo.co/read/1118802/setara-institut-intoleransi-terhadapkeyakinan-meningkat

Rahman, D.A. (2019, 13 Agustus). Cegah Regulasi Diskriminatif, Jokowi Diharap Wujudkan Pusat Legislasi. Diakses pada 9 Desember 2019, dari https://nasional.kompas.com/read/2019/08/13/15083341/cegah-regulasidiskriminatif-jokowi-diharap-wujudkan-pusat-legislasi?page=all

sains.kompas.com. (2018, 20 Desember). Toleransi yang Sebenarnya di Indonesia Bukan Hal Mustahil. Diakses pada 10 November 2019, dari https://sains.kompas.com/read/2018/12/20/140400723/toleransi-yangsebenarnya-di-indonesia-bukan-hal-mustahil?page=all

Sari, Linda Dewi Arum. (2014). Nilai Nasionalisme dalam Film Sang Kiai: Analisis Isi Film Sebagai Media Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. http://eprints.ums.ac.id/29683/

Silaban, Winner. (2012). Pemikiran Soekarno Tentang Nasionalisme. Jurnal Dinamika Politik. 1(3). 1-6. ISSN: 2302-1470.

Supriyanto. (2013). PSIKOSILAMIKA: Memahami dan Mengukur Toleransi dari Perspektif Psikologi Sosial. Jurnal Psikologi. 15(1), 23-28. http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/psiko/article/view/6659

Wibowo, Guntur Arie. (2013). Konsep Nasionalisme Soekarno dalam PNI 1927- 1930. Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya 3(02), 21-36. doi: 10.25273/ajsp.v3i02.1462

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *