Hari tani hanya parade seremonial saja!!!

DICKY ZULKARNAIN MAJID
(Demisioner Ketua Umum Pengurus Pusat IM3i Priode 2018-2019)

Semalam di rumah seorang kawan tempat kami sering berkumpul sekedar

nongkrong ceria, sebenarnya tak ada hal yang begitu menarik yang bisa

dipetik dari hasil nongkrong kami kecuali kopi, gorengan atau rokok

ketengan yang sebisa mungkin kami dapatkan dari hasil patungan,

kebetulan kami juga berasal dari organ yang sama tentunya selain

membahas tentang video tiktok apa yang sedang syahdu-syahdunya kami

juga membahas beberapa hal yang menyangkut tentang organ kami,

misalnya tentang siapa gebetan terbaru pak ketua? atau membahas proker

apa saja yang masih terhambat dilaksanakan ditengah pandemi ini, nahh

malam itu juga salah satu kawan yang bertugas sebagai desainer

flyer di organ ikut membahas tentang kutipan apa yang menarik untuk

dipasang pada flyer Hari tani 2020 yang akan dieditnya, saya yang

setengah berpikir mendengar pernyataan yang lebih mirip pertanyaan itu

Seketika langsung tercengang dengan jawaban kawan saya yang lain, “daripada sibuk

berpikir atau googling mencari kutipan manja tentang petani yang

dibuat oleh seorang tokoh politik atau pemikir, lebih baik cari saja

petaninya langsung tanyakan apa harapan dan keinginannya di hari tani

yang belum tentu ia sadari bahwa hari ini adalah hari yang

memperingati tentang profesinya” tukasnya santai. kalau dipikir-pikir

masuk akal juga jawabannya walau sedikit terdengar agak konyol dan

aneh, dari dulu memang petani lebih disibukkan oleh aktifitas

pertanian juga dengan segala embel-embel persoalan hidup yang silih

berganti datang menemuinya, seperti misalnya harga komoditas yang

memungkinkan hasil taninya tak akan mampu menutupi biaya hidup

keluarganya atau gosip samar-samar tentang persoalan tanah garapannya

yang sebentar lagi akan di alih fungsikan oleh negara atau investor,

dan masih banyak lagi polemik tentang petani dinegeri ini agraris ini.

hari ini seperti tahun-tahun sebelumnya bak parade wajib atau pawai

tahunan juga saya melihat banyak dari kita yang katanya aktivis turun

kejalan membawa isu mentereng seperti Reforma Agraria, Omnibuslaw dll

tapi hampir tak pernah benar-benar berada ditengah-tengah petani untuk

belajar dan menggali apa sebenarnya yang petani kita resahkan atau

sekedar bersolidaritas turut merasakan kepelikan hidup si

petani,kebanyakan kita tak pernah benar-benar berada bersama mereka

menyampaikan analisis yang kita dapatkan dari pendiskusian dan

menyampaikannya dengan bahasa yang sehari-hari seperti mereka

pakai,gaya bahasa yang sama dengan orang tua yang melahirkan mereka

atau tetangga mereka, bukan dengan bahasa langit kampus penuh teori

yang sama sekali asing ditelinga para petani.  lalu bagaimana kita

bisa memperbaiki negeri ini toh hal yang paling penting dalam sebuah

gerakan saja masih kita lupakan, kita cenderung mendiskusikan hal yang

kita sendiri hampir tak pernah lihat langsung apalagi merasakannya,

kita seolah turun hanya menampikan sekumpulan pemuda yang keranjingan

revolusi saja yang hanya ingin terlihat keren dibalik kata revolusi

itu sendiri, alhasil apa yang kita lakukan tak pernah akan bisa

tercapai atau memang kita tak bermaksud untuk mencapainya? melakukan

aksi Cuma jadi penyalur kenakalan remaja saja atau hanya ingin

terlihat edgy dihadapan adik tingkat dengan label aktipis??? padahal

dibeberapa catatan atau film tentang tokoh revolusioner telah

menggambarkan banyak hal bahwa untuk mencapai apa yang mereka

cita-citakan dan revolusi yang mereka teriakkan itu tidak ditempuh dengan cara instan tapi

dengan serangkaian proses yang memang agak panjang, terjal dan

melelahkan, namun justru dengan hal itu yang menambahkan rasa manis

pada buah revolusi yang kita idam-idamkan, tidak dengan turun aksi

tanpa menggandeng rakyat sebagai kawan berjuang yang sesungguhnya,

yang hanya memacetkan jalan dan berbuah antipati dari rakyat!, lantas

apa bedanya kita dengan para politikus yang tiba-tiba muncul di

kampung-kampung, di sawah-sawah dan seolah peduli dengan petani

apabila musim kampanye pemilu tiba?, hanya menggugurkan kewajiban saja dan tak pernah benar-benar peduli dengan nasib petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *