PLURALISME AGAMA MENUJU ISLAM RAHMATAN LILALAMIN


M. Yusril Mudatzir Arif
Ketua BPO IM3I ( Priode 2020-2021)

Tuhan menciptakan manusia ke muka bumi ini  tidak lain untuk menjadi seorang Khalifah (pemimpin) dan untuk menjadi seorang khalifah di perlukan sebuah aturan atau norma-norma untuk menjalani kehidupan sehari-hari agar tidak terjadi chaos. Disinilah awal mula hadirnya agama untuk manusia ,Agama secara etimologi berasal dari kata sansekerta yaitu A berarti tidak , Gama berarti kacau. Pada hakikatnya agama hadir di dunia ini sebagai sebuah aturan atau sistem mengenai tata cara hidup manusia dengan Tuhannya dan  sesamanya, aturan tersebut bertujuan agar kehidupan manusia terhindar dari segala hal yang tidak di inginkan.Islam hadir sebagai salah satu Agama yang diterima oleh Nabi (Agama Samawi) yang mengajarkan monoteisme tanpa kompromi, iman terhadap wahyu, iman terhadap akhir zaman, dan tanggung jawab. Islam secara etimologi barasal dari bahasa arabaslama-yuslimuyang berarti Tunduk dan patuh, berserah diri, kedamaian, keselamatan. Dan secara terminologi islam bermakna penyerahan diri, ketundukan dan kepatuhan terhadap perintah Allah SWT serta pasrah dan menerima dengan puas terhadap kententuan dan hukum-hukum-Nya.Dan masih ada banyak lagi agama beserta mazhab-mazhab yang dianut oleh manusia. Walaupun dalam hal ini kita memeluk agama yang sama kita akan tetap terkotak-kotakkan  di karenakan perbedaan mazhab-mazhab yang ada. Setiap agama memiliki ajarannya masing-masing tapi  satu hal yang harus di yakini seluruh ajaran agama yang ada pasti selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti petunjuk kebenaran, sumber informasi tentang permasalahan metafisika, sekaligus memberikan bimbingan rohani di kala suka maupun dikala duka.

Ada banyak  umat beragama yang ada di dunia inimereka menghabiskan waktu dan hidup  mereka dengan beribadah dan menjalani kehidupan sehari hari mereka dengan mengikuti syariat-syariat agama mereka masing-masing, lantas yang menjadi sebuah permasalahan disini ialah aktualisasi dari mereka yang sudah menjalani kehidupan mereka dengan mengikuti ajaran-ajaran agama yang ada tetapi malah menimbulkan sebuah kekacauan. Hal tersebutlah yang menjadi kontradiksi yang hadir dikarenakan agama yang seharusnya menjadi acuan yang mengajarkan manusia agar tidak menuju sebuah ke kacauan tetapi malah membuat kehidupan manusia menjadi kacau. Lantas apakah  kita  patut untuk melegitimasi dan menyalahkan agama yang ada terutama agama islam yang menjadi penyebab dalam hal tersebut, Tentu saja tidak fenomena tersebut terjadi  dikarenakan ke fanatikan seorang umat terhadap agama islam yang terlalu ekstrim dan radikal yang berujung pada aksi terorisme sedangkan pahaman keagamaan mereka masih literal, atau sepotong-sepotong  terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.

Terlepas dari perdebatan antar agama yang satu dengan agama yang lain, dalam agama islam pun terdapat konflik tersendiri di dalamnya hal ini terjadi dikarenakan perbedaan penafsiran atau sudut pandang dari setiap imam-imam besar dalam memandang Al-Qur’an. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu faktor mengapa ada banyak mazhab-mazhab yang ada di dalam agama islam.Dan ada banyak kontroversi yang hadir diantaranya Kontroversi teologis dan yuridis hal tersebutlah yang menjadi penyebab terbentuknya banyak kelompok.

Mazhab-Mazhab Utama Islam

Mazhab adalah sekumpulan doktrin yang diajaarkan oleh seorang pemimpin atau imam, dan diikuti oleh sejumlah orang.Seorang imam haruslah juga mutjahid yang terkemuka, seseorang yang dapat melakukan penilaian independen. Dalam ajarannya, sang imam harus menerapkan metode dan prinsip yang khas untuk mazhabnya, yang berbeda dari yang lain. Suatu mazhab harus memiliki pengikut yang membantu pemimpinnya menjelaskan dan menyebarluaskan ajarannya.Akan tetapi mazhab tidak mengharuskan adanya organisasi yang jelas, atau ajaran formal, atau status resmi, dan tidak pula harus ada keseragaman di dalam masing-masing mazhab. “Aliran Hukum” adalah deskripsi mazhab yang tepat karena memang hukumlah yang menjadi pokok perbedaan utamaantara masing-masing mazhab.4

Awal perpecahan mazhab islam terjadi pada zaman ke khalifahan tepat pada saat Tiga dekade  setelah wafatnya  Nabi Muhammad SAW, dimana pada saat itu terjadi konflik saat khalifah ketiga yaitu Utsman Bin Affan dibunh oleh umat islam yang sedang memberontak di kota Madinah dan Pada saat itu ada isu yang beredar bahwa Ali punya keterlibatan dalam pembunuhan Utsman. Pengelompokan pertama terjadi antara Aliran Sunni dan Syi’ah. Pemisahan diri Syi’ah dari kelompok utama muslim, kaum Sunni, terjadi karena masalah politik, terutama karna perbedaan  mereka dalam hal sifat  dan peralihan otoritas politik. Kaum Sunni mengakui legitimasi kepemimpinan keempat khalifah, para Khulafa’ Rasyidun.Namun kaum Syi’ah mengklaim bahwa Ali, khilafah keempat dan keponakan serta menantu Nabi, memiliki klaim kepemimpinan yang begitu kuat daripada ketiga pendahulunya. Maka mereka menamakan diri ”Partai Ali”.5Dalam kelompok Sunni terdapat 4 Mazhab-mazhab utama yang masih dianut sampai sekarang yaitu; Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, Dan Mazhab Hanbali.

Eksterimisme dan Radikalisme

Pendekatan ini mencerminkan keyakinan bahwa seseorang tidak dapat memahami orang fanatik yang ingin bunuh diri selain dari orang suci yang rela berkorban bukan karena keduanya berbagi kesetaraan moral, melainkan karena logika internal dan fondasi sosial dari ekstremisme religius hampir sama, apakah ekstremis dan radikalisagama itu baik, buruk, atau mematikan. Para tokoh agama-agama dunia memandang ekstrimisme dan radikalisme yang berkembang dalam semua agama bertentangan dengan agama itu sendiri. Fanatisme terhadap agama menyebabkan lahirnya ego agama (menganggap agamanya lebih benar dari yang lain)  Kebencian dan ujaran kebencian yang dilontarkan dari pemeluk agama tertentu ke pemeluk yang lain ini menimbulkan gejala islamphobia. Kebanyakan dari orang luar sangat sulit dalam membedakan dan cenderung menyamakan antara ekstremisme dan radikalisme.

A. Radikalisme

Radikalisme secara etimologi berasal dari bahasa latinradix yang berarti “akar” Jadi radikalisme adalah suatu paham atau aliran yang menginginkan perubahan secara mengakar atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan metode-metode penekanan dan ketegangan yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kekerasan.

  • Menurut Hasani dan Naipospos (2010),

Radikalisme adalah pandangan yang ingin melakukan perubahan yang mendasar sesuai dengan interpretasinya terhadap realitas sosial atau ideology yang dianutnya.6

  • Menurut Kartodirjo (1985),

Radikalisme adalah gerakan sosial yang menolak secara menyeluruh tertib sosial yang sedang berlangsung dan ditandai oleh kejengkelan moral yang kuat untuk menentang dan bermusuhan dengan kaum yang memiliki hak-hak istimewa dan yang berkuasa.7

  • Menurut Rubaidi (2007),

Radikalisme merupakan gerakan-gerakan keagamaan yang berusaha merombak secara total tatanan sosial dan politik yang ada dengan menggunakan jalan kekerasan.8

B.Ekstrimisme

Ekstremisme secara harfiah biasanya didefinisikan sebagai kondisi kualitas atau keadaan yang menjadi ekstrem atau ekstrimisme juga biasa diartikan sebagai pahaman atau keyakinan yang begitu kuat(ekstrim) terhadap sesuatu pandangan, melebihi batas kewajaran dan melanggar hukum dan norma yang berlaku. Istilah ekstrimisme biasanya dilekatkan pada pembahasan doktrin esensi politik dan agama yang merujuk kepada ideologi yang dianggap berada diluar dari tingkah laku masyarakat pada umumnya.Tetapi terkadang juga istilah Ekstrimisme digunakan pada diskursus Ekonomi. Ekstrimisme agama dianggap bertentangan dengan agama dikarenakan kecenderungan dari orang yang berpahaman ekstrimisme untuk melakukan suatu hal yang berlebihan yang tidak sesuai dengan ajaran-ajaran yang di ajarkan dalam agamaislammaupun norma sosial atau lebih tepatnya mereka cenderung menerapkan agama secara kaku dan keras hingga melewati batas kewajaran

Ekstremisme bukan monopoli satu agama semata, Dalam sejarah islam berderet nama gerakan ekstrem yang pernah timbul dan tenggelam. Dikatakan pakar sejarah islam dari Nottingham University, Inggris, Prof. Hugh Goddard, Ph D, tidak hanya agama islam dan Kristen yang mengikuti sikap liberal dan ekstrim, juga pengikut agama lainnya. Di Irlandia ada konflik antara umat Katolik dan Kristen, di India ada ekstrimis Hindu, dan di Indonesia ada ekstrimis muslim.9

C. Dampak Negatif dari Ekstrimisme dan Radikalisme

Hal yang paling di khawatirkan dari orang-orang yang menganut paham ekstrim agama (khawarij) ialah aksi terorisme.Relasi antara ekstremisme dan Radikalisme agamasudah tampak jelas.Berawal dari Para umat yang berpahaman fundamental ekstremis religius kemudian melakukan pergerakan radikal seperti terorisme dengan mengatas namakan Jihad yang membuat orang rela membunuh yang lain karena mereka menganut paham teologi yang menyetujui kekerasan untuk melayani Tuhan. Mereka tidak tidak peduli dan tidak memiliki simpati terhadap korbannya, karena mereka memandang korban tersebut sebagai musuh Tuhan. Dan mereka siap mengorbankan hidup mereka sendiri karena mereka mengharapkan imbalan besar dan segera setelah kematian. Dan yang lebih mirisnya lagi pelaku beberapa dari aksi terorisme tersebut dilakukan oleh orang yang rajin beribadah, Hafal Al-Qur’an, dan bahkan seorang pemuka agama sekalipun. Fenomena tersebut sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh Nabi, Nabi Muhammad SAW pernah berkata bahwa nanti akan datang orang-orang yang pandai membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan. Dalam artian , ilmunya tidak menjadikan dirinya menjadi berakhlak mulia tapi malah menjadikan malapetaka. Jadi kita tidak perlu heran jika ada orang yang sering beribadah tapi melakukan suatu hal yang diluar ajaran agama , hal tersebut terjadi dikarenakan pahaman terhadap agama yang terlalu ekstrim tapi tidak tuntas. Hal seperti ini juga sudah pernah terjadi pada saat zaman ke khalifahan, pada saat itu khalifah, keponakan, dan sekaligus menantu Nabi yaitu Ali Bin Abi Thalib dibunuh pada saat ingin berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh. Orang yang membunuh Ali adalah Abdurrahman bin Muljam, seseorang yang hafal Al-Qur’an, Sering melaksanakan shalat malam (qiyamul lail), dan di siang hari berpuasa. Berikut adalah beberapa contoh ekstrimisme dan radikalisme yang beratasnamakan jihad dalam  bentuk terorisme yang di ambil dari Liputan 6:

  • ISIS : Rabu 24 Mei 2017, Pengeboman di kampong melayu yang menewaskan 5 orang dan korban luka ada 12 orang.
  • Bom Thamrin : Kamis 14 januari 2016, ibu kota Negara diteror bom. 31 orang menjadi korban ledakan bom 7 meninggal.
  • Al- Shabab : Serangan bom di Somalia yang membuat Gubernur mudug tewas.
  • Taliban Pakistan : Bom Taliban di Kabul tewaskan 16 orang.

D. Pluralisme Agama

Secara etimologi pluralisme agama berasal dari dua kata yaitu “pluralism” dan “agama”. Dalam bahasa arab diterjemahkan “Al-ta’addudiyyah al-diniyyah” dan dalam bahasa inggris “religious pluralism”. Oleh karna istilah pluralism agama di ambil dari bahasa inggris, maka untuk mendefinisikan secara akurat harus merujuk ke kamus bahasa tersebut. Pluralisme berarti “jama” atau lebih dari satu.10 Dimata Gus Dur sendiri Pluralisme Adalah sebuah pandangan yang menghargai dan mengakui adanya keragaman identitas, seperti suku, ras, agama, budaya dll. Pluralisme bukanlah ide yang menyamakan semua agama sebagaimana yang selama ini sering di tuduhkan, karna setiap agama memiliki perbedaan dan keunikannya masing-masing.11Karna menurut Gus dur hal keberagaman merupakan anugrah yang telah diciptakan oleh Tuhan dan kita patut menghargai keberagaman tersebut dengan toleransi agar dapat hidup berdampingan dengan harmoni. Walaupun terkadang terjadi perdebatan karna Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa mengharamkan pluralism, sekularisme, dan liberalism karna menurut mereka hal tersebut asing bagi umat islam, tetapi Gus dur tetap bersih keras karna ia percaya bahwa segala keberagaman yang hadir dimuka bumi ini merupakan desain dari Tuhan agar manusia dapat belajar dan mengenal satu sama lain. Sebagai pendukung argumentasi tersebut Gusdur mengutip salah satu ayat dari Al-Qur’an yaitu Surah Al-Hujuraat Ayat 13 sebagai landasan teologis

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Berdasarkan hasil tulisan diatas maka saya simpulkan bahwa paham ekstrimisme dan radikalisme menjadi salah satu akar permasalahan yang sangat fatal  bagi umat beragama. Karena paham tersebut sangat bertolak belakang dengan ajaran-ajaran yang di ajarkan dalam agama islam, Sebagaimana kita di ajarkan untuk saling menghargai dan menjaga hubungan antar sesama manusia (Hablumminannas) tapi karna ke fanatikannya terhadap agamanya sendiri sehingga kebanyakan orang menganggap bahwa dirinyalah  dan agamanyalah paling benar (merasa eksklusif dari yang lain) sehingga untuk meretas hal tersebut diperlukan rekonstruksi paradigma menuju paradigma Pluralisme yang mengakui segala keberagaman yang ada dan menjunjung tinggi toleransi. Karna segala yang ada di muka bumi ini merupakan manifestasi dari Tuhan, dan jika ada yang menolak keberagaman tersebut maka sama saja ia telah mengutuk Allah SWT. Dengan melakukan rekonstruksi paradigma tersebut kita akan lebih mudah menuju Islam Rahmatan Lilalamin.

DAFTAR PUSTAKA

  • Melfianora. Penulisan Karya  Tulis Ilmiah Dengan Studi  Literatur
  • Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial: Format-format kuantutatif dan kualitatif, (Surabaya: Airlangga University Press, 2001). Hal 143.
  • Kamali, Mohammad, Hashim. 2013. Membumikan Syariah: Pergulatan Mengaktualkan Islam. Jakarta Selatan. Mizan . Hal 89
  • Kamali, Mohammad, Hashim. 2013. Membumikan Syariah: Pergulatan Mengaktualkan Islam. Jakarta Selatan. Mizan Hal 90
  • Hasani, I., dan Naipospos. B.T. 2010.Radikalisme agama di Jabodetabek dan Jawa Barat: Implikasi terhadap jaminan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Jakarta:Pustaka Masyarakat Setara.
  • Kartodirjo, Satorno. 1985. Ratu Adil.Jakarta: Sinar Harapan
  • Rubaidi, A. 2007. Radikalisme Islam, Nahdatul Ulama Masa Depan Moderatisme Islam di Indonesia
  • Yogyakarta: Logung Pustaka.
  • Yunus, AF. 2017. Radikalisme, Liberalisme, dan Terorisme: Terhadap Agama Islam. Universitas Indonesia. Jurnal Studi Al-Qur’an
  • Fitriyani. 2011. Pluralisme Agama- Budaya dalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *