Melihat Warisan Adat dan Kepemimpinan Masyarakat Sulsel dan Sulbar pada Seorang Baharuddin Lopa

Muhammad Darwan
Koord. Pengaderan PP Priode 2020-2021

Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat merupakan dua Provinsi di Indonesia yang sangat kaya akan adat istiadat dan budaya. Kedua daerah ini dihuni oleh beberapa suku asli setempat, yaitu Suku Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar. Suku Mandar sendiri saat ini adalah suku yang mendominasi daerah Provinsi Sulawesi Barat, kemudian ketiga suku lainnya itu adalah suku yang berada di Sulawesi Selatan. Adat istiadat dan kebudayaan kedua provinsi di atas sangatlah beragam, salah satunya adalah adat dan budaya mengenai pemimpin disetiap daerah. Mereka memiliki masing-masing keunikan dan nilai-nilai kepemimpinan yang sangat relefan dan baik untuk dijadikan sebuah rujukan dalam memimpin suatu daerah dan bahkan sebuah negara.

Di daerah Sulawesi Selatan, terdapat beberapa sosok pemimpin pada masa kerajaan yang sangat ideal dan baik untuk dijadikan panutan dalam memimpin sebuah daerah atau negara. Salah satu negarawan dari Kerajaan Wajo’, LaTandampare’ Puang ri Manggalatung yang memiliki nashat tentang kepemimpinan harus jujur dan suci. Pada masa pemerintahan Arung Matowa Wajo’ I La Palewo To Palipu’ bahwa seseorang dapat diangkat menjadi raja/pemimpin harus memiliki sikap jujur, berani, dan tegas. Kemudian dari tanah Kerajaan Gowa ada Karaeng Pattingaloang yang menyatakan bahwa sebuah kerajaan akan rusak ketika pemimpinya tidak ingin dikritik, tidak ada lagi kaum cendekiawan, dan para hakim menerima sogokan. Di daerah Mandar sendiri terdapat pesan pesan mengenai kepemimpinan yang dapat kita lihat dari Tomakaka di Mandar yang mengedepankan kepentingan dan kepercayaan rakyatnya, menolong tanpa pamrih, dan menjaga harga diri, kemudian diserahkan kepada seorang Mara’dia atau raja. Di Balanipa Mandar sendiri nilai itu dapat dilihat dari sosok I Manyambungi yang sangat dicintai rakyatnya.

Tokoh-tokoh dengan kepemimpinan dan nasehat kepada pemimpin seperti yang dijelaskan sebelumnya tidak hanya dapat ditemukan pada zaman kerajaan di Sulawesi. Namun, diabad ke-20 hingga 21 kita masih bisa menemukan sosok pemimpin dan tokoh yang memegang teguh nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu di Sulawesi Selatan dan Barat. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Baharuddin Lopa, seorang Jaksa yang sangat terkenal akan kejujuran, keberanian, dan ketegasannya dalam menangani kasus hukum di Indonesia.

Dilangsir dari Mojok.com terdapat sebuah tulisan mengenai Baharuddin Lopa yang dianggap sebagai sosok pejabat yang terlampau jujur. Begitu pula yang dituliskan dalam laman tirto. id yang juga meceritakan mengenai kejujuran dari Baharuddin Lopa terutama ketika berada di dalam pemerintahan masa Presiden Suharto hingga masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur). Bagi Baharuddin Lopa, haram hukumnya jaksa untuk menerima suap. Hal ini ia sampaikan pada saat diangkat menjadi Kejati Sulawesi Selatan yang disampaikan lewat surat kabar “ jangan berikan uang kepada jaksa, jangan coba-coba untuk menyuap para penegak hukum, apapun alasannya!”. Bentuk kejujuran Baharuddin Lopa ini telah tergambarkan juga dalam nilai-nilai budaya yang ada di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sebagai tanah kelahiranya, tepatnya di Kabupaten Polewali Mandar.

Kemudian Baharuddin Lopa juga terkenal akan keberaniannya dalam menegakkan hukum dan kebenaran. Terbukti dengan keberaniannya dalam mengusut kasus korupsi yang menyeret nama Presiden Suharto. Baharuddin Lopa berhasil memenjarakan salah satu mantan menteri Suharto, yaitu Bob Hasan dan juga seorang tokoh Tionghoa di Makassar yaitu Tony Gozal pada kasus manipulasi dana reboisasi tahun 1982. Keberanian BaharuddinLopa ini terinspirasi oleh kisah adat dari tanah kelahirannya di Mandar, yaitu sikap raja yang menghukum anaknya walaupun mendapat keringanan dari 7 pemuka adat di Balanipa. Baharuddin Lopa juga terkenal dengan kesederhanaanya, beliau bukanlah tipe orang yang ingin hidup glamor walaupun dengan jabatan tinggi yang ia miliki. Kesederhanaan itu terbukti dengan tidak menggunakan fasilitas yang diberikan oleh negara untuk kepentingan pribadinya, seperti mobil dinas yang ia miliki tidak diperbolehkan untuk dinaiki oleh keluarganya. Istrinya kerapkali menggunakan Bus untuk pulang ke Majene. Hal lain yang menunjukkan kesederhanaanya adalah beliau pernah meminjam sepatu ajudannya. Kemudian menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, Baharuddin Lopa adalah bukat tipe pejabat yang senang menerima upeti.

Sumber

Abidin, Andi Zaial. 1983. Makassar Tentang Hukum, Negara dan Dunia
Luar. Penerbit Alumni ; Bandung
Mas’ud Rahman, Darmawan. 1988. Puang dan Daeng Kajian Sistem Nilai Budaya
Orang Balanipa Mandar. Universitas Hasanuddin ; Makassar.
Baharuddin Lopa, Jaksa Agung yang Kelewar Jujur dan Sederhana,
mojok.com

Kejujuran dan Kesederhanaan Jaksa Agung Baharuddin Lopa, tirto.id 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *