RUMAH SAKIT MAJENE PERNAH MENJADI RUMAH SAKIT RUJUKAN DARI BERBAGAI DAERAH

Oleh : luluareq Muhammad Darwan

Salam, pembaca. Tulisan ini saya buat untuk melihat bagaimana Rumah Sakit yang ada di Majene pada masa kolonial yaitu antara periode awal abad ke-XX. Kemudian kita akan meninjau seperti apa Rumah Sakit Umum Daerah Majene sekarang. Tulisan ini bukan bermaksud untuk membanding-bandingkan, namun ini bisa menjadi bahan pertimbangan dan pembelajaran dengan melihat masa lalu (sejarah).

Sejarah amatlah penting sebagai bahan pembelajaran pada masa sekarang demi merancang masa depan yang lebih baik. Itulah yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, mengenai pelayanan rumah sakit Majene pada masa kolonial. Rumah sakit Majene (Boyang To Monge’) merupakan rumah sakit yang ada di Afdeling Mandar, diperkirakan dibangun pada tahun 1908. Sebuah tulisan Belanda memaparkan bahwa rumah sakit Majene ini masuk dalam kategori rumah sakit kelas 2 pada masa pemerintahan Hindia Belanda sama dengan tipe rumah sakit yang ada di Kota Palopo Sulawesi Selatan.

Tidak perlu heran, Majene memang merupakan sebuah daerah yang sudah modern sejak adanya sentuhan kolonial Belanda melalui penaklukan Mandar pada Ekspedisi Bone 1905. Sejak itulah Majene kemudian menjadi Ibu Kota Afdeling Mandar. Jadi, dengan status sebagai Ibu kota afdeling, Majene memiliki fasilitas pelayanan publik yang cukup memadai termasuk pelayanan kesehatan.

Rumah Sakit Majene (Boyang To Monge’)
Sumber : Dokumentasi Pribadi Penulis

Rumah Sakit (Boyang To Monge’) yang ada di Majene menjadi rumah sakit rujukan dari berbagai daerah, baik itu dari Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, dan sebagainya. Ini bisa kita lihat dari daftar pasien yang dicatat oleh pihak pengelolah rumah sakit yang bertahun antara 1925-1935. Artinya Majene mejadi daerah yang dituju untuk mengatasi masalah kesehatan dan dapat dipastikan bahwa pengelolaannya pasti baik, serta fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang memadai.

Fasilitas yang ada dalam Rumah Sakit (Boyang To Monge’) ini berupa bangsal, ruang operasi, ruang gawat darurat, ruang perawatan VIP, ruang masak, ruang dokter, ruang administrasi, tempat karantina penyakit kusta, ruang perawatan penyakit jiwa, dan sebagainya. Melihat itu saja, kita bisa mengatakan bahwa rumah sakit ini lumayan lengkap dan memadai pada masa itu. Bahkan sistem administrasi dan datanya baik, walaupun dengan teknologi yang terbatas namun bisa kita ketahui hingga sekarang. Ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan pihak kolonial yang disiplin dalam administrasi.

Pembaca yang budiman, tulisan ini tidak bertujuan untuk pro terhadap kolonial, namun ada hal yang dapat dijadikan bahan pembelajaran seperti pengelolaan dan pelayanan rumah sakit yang dilakukan oleh pihak pemerintah Hindia Belanda khususnya yang ada di Onderafdeling Majene.

Jika kita kontekskan dengan kondisi yang ada sekarang ini di Majene, Pelayanan kesehatan tidak begitu memuaskan bagi masyarakat Majene. Dapat dilihat pada data tahun 2020 bahwa Rumah Sakit Umum Daerah Majene merujuk ratusan pasien ke luar kota untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih memadai, contohnya seperti ke Kota Makassar dan lain-lain.

Kemunduran terjadi pada pelayanan kesehatan di kota tua Majene, mungkin karena kurangnya pihak yang bertanggungjawab akan hal itu melihat pada catatan sejarah bahwa Majene pernah menjadi pusat pelayanan kesehatan terutama di daerah Afdeling Mandar. Pada saat ini Rumah Sakit Majene menjadi rumah sakit “perujuk” bukan lagi menjadi rumah sakit “rujukan”. Jadi kita patut berusaha dengan segala kebebasan dan kemampuan yang dimiliki oleh Kabupaten Majene, karena seharusnya pelayanan kesehatan di daerah ini lebih baik dari masa kolonial bukan malah sebaliknya.

Hanya itu yang ingin saya sampaikan, bahwa kita penting untuk melihat kebelakang dalam menjalani hidup yang sekarang. Karena dengan begitu kita dapat melihat apa yang pernah terjadi, kemudian dijadikan bahan evaluasi. Ok, sekian dari saya, semoga kesehatan tetap menjadi salah satu pelayanan mendasar yang harus dipenuhi oleh pemerintah daerah khususnya Majene dalam tulisan ini.

Daftar Pustaka

Arsip Rumah Sakit Majene (Museum Mandar Sekarang)

Karim, Abd. 2019, Ekspedisi Militer Belanda di Mandar 1905-1907, Jurnal Handep

Alimuddin, Ridwan, 2020, Majene Kota Tua, Dinas Pariwisata Provinsi, Sulawesi Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *