“Peran Promosi Kesehatan Dalam Menurunkan Angka pernikahan Dini Ditengah Pandemi Covid-19”

Oleh : Nur Devi Syamsir

Penulis

Karut marutnya kondisi pandemi telah merugikan banyak aspek terutama dalam bidang kesehatan yang amat kesulitan menghadapi era saat ini tentunya dibidang kesehatan masyarakat  yang mempunyai peran aktif dalam era ini, mengenai tentang sekumpulan kasus atau permasalahan yang banyak terjadi dikalangan remaja;  misal dalam kasus tingginya angka pernikahan dini pada anak selama pandemi, Tombak yang besar untuk menyelesaikan hal ini adalah peran promosi kesehatan  masyarakat berfokus pada “preventif ” dan “promotif’’’ oleh karena itu, promosi kesehatan memiliki peran sangat penting atau bisa kita sebut sebagai ujung tombak yang besar atau sebuah ruh dalam mewujudkan tujuan dari aspek kesehatan masyarakat dalam rana atau kondisi pandemi Covid-19 dalam menurunkan angka pernikahan dini pada anak.

Saat ini kasus Pandemi covid-19 yang menyerang seluruh wilayah indonesia sejak bulan maret pada tahun 2020 tentunya seluruh masyarakat merasa kewalahan dengan kondisi sekarang ini ,masyarakat merasa terguncang dan merasa dibatasi. Peningkatan Covid-19 terus meningkat setiap harinya. Dalam kondisi ini telah melahirkan perubahan baru atau kebiasan baru, dituntut untuk menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan. Dari berbagai aspek telah merasa kewalahan, berbagai pekerjaan harus dilakukan dirumah saja, yang seharusnya dilakukan diluar namun tidak.

Memikirkan kasus Covid-19 telah mengalami peningkatan, tentunya menjadi sebuah keresahan ditengah masyarakat saat ini, peranan dalam aspek promosi kesehatan harus lebih ditingkatkan baik dalam hal preventif dan promotif. Berangkat dari kasus sebelumnya mengenai tingkatan pernikahan dini selama pandemi terus bertambah jumlahnya direktorat jendral Badan peradilan Agama mencatat lebih banyak sebanyak 34 ribu pemohon atau permohonan pernikahan selama bulan januari-juni 2020,jumlah tersebut sekitar 97% tekabulkan dan 60% melakukan pengajuan, kebanyakan yang mengajukan adalah anak usia umur 18 tahun dan peningkatan pernikahan ditahun 2020 lebih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Memandang kasus seperti ini sangatlah tidak baik untuk kesehatan anak terutama untuk masa depannya, kebijakan belajar dirumah juga menjadi pemicu pernikahan dini tersebut, Hal ini dilanturkan oleh beberapa anak yang mengatakan bahwa mereka jenuh dan bosan belajar daring sehingga mereka melangsungkan pernikahan.

Jika menganalisis situasi atau kasus tersebut hal ini tentunya sangat urgent untuk diselesaikan, karena akan berakibat fatal dan berakibat negatif sehingga perlu adanya peran orang tua agar mencegah anaknya untuk melakukan pernikahan dini, selain itu pernikahan dini akan menyebabkan kematian ibu meningkat. Alasan yang menjadi pernikahan itu berlangsung dikarenakan oleh kata bosan dalam menerima pelajaran selama pandemi, hal itu harus segara kita atasi karena jika hal ini terus meningkat maka akan berakibat fatal. Dalam menelitik kasus ini kebanyakan orang tua sudah melarang anaknya namun anaknya keras kepala mendengarkan saran dari orang tuanya tersebut.

Dapat ditarik kesimpulan, Hal ini tentunya menjadi sebuah permasalah yang harus dipecahkan dengan cara melakukan edukasi kepada masyarakat  mengenai bahayanya pernikahan dini, terutama pada anak perempuan akan berisiko atau mengalami komplikasi yang berbahaya. Seorang perempuan melahirkan dibawah umur 15 tahun akan berisiko buruk terhadap keduanya baik ibu maupun bayi itu, sedangkan umur 20 tahun perempuan akan melahirkan bayi, dimana bayi tersebut akan  dilahirkan secara prematur dan akan terjadi pendarahan persalinan, terutama dalam kondisi pandemi saat ini hal yang perlu dilakukan adalah untuk memutuskan rantai Covid-19 dan menurunkan angka pernikahan dini pada anak, maka peran promosi kesehatan dalam hal ini penting.

 Melakukan sebuah strategi yang baik.

Peranan yang dapat dituangkan promosi kesehatan adalah menggunakan puskesmas sebagai ranah terdepan untuk mengatasi pandemi Covid-19. Hal ini dilaksanakan untuk membentuk paradigma sehat di masyarakat, Selain itu masyarakat diharuskan untuk saling berkerjasama dalam hal memutus rantai penyebaran Covid-19. Selain itu pengembangan media promosi kesehatan. Tahap analisis komunikasinya dengan bekerjasama oleh beberapa tim, salah satunya adalah analsis media. Analisis komunitas dilakukan tidak dengan turun dilapangan.

 Hal-Hal yang dapat dilakukan dengan memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya preventif dan promotif ditengah wabah pandemi. Selain itu melakukan edukasi kepada anak remaja atau anak usia dini mengenai bahaya yang ditimbulkan akibat pernikahan dini dan perlu adanya pendekatan lebih dalam untuk merubah pola pikir anak tersebut, terutama dalam menerima pelajaran agar tidak membosankan.

Dari sini, jelaslah solusi harus dituangkan dalam hal mencegah pernikahan dini dengan cara  meningkatakan edukasi dan pemberdayaan perempuan harapannya  kedepan untuk perempuan lebih membuka mata lebih luas lagi agar mereka dapat menunda pernikahan dan kehamilan, dengan mendapatkan sebuah sarana dalam aspek pelayanan kesehatan dan mengembankan wawasan dalam hal kesehatan reproduksi, selain itu banyak-banyak menambah pengetahuan lebih dalam lagi.

Referensi:

Herti Windya Puspasari,Masalah Kesehatan Ibu Dan Anak Pada Pernikahan Usia Dini Di Beberapa Etnis Indonesia; Dampak Dan Pencegahannya  Vol 23 No 4 (2020): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan

Ita Puji Lestari, Sigit Ambar Widyawati, Sri Wahyuni” pemberdayaan ibu sebagai strategi penurunan angka pernikahan dini Vol 1 No 1 (2019); Indonesian jounal of community Empowerment (IJCE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *