Meretas Stereotip Aneh Pada Orang Mandar

Oleh Dicky Zulkarnain Madjid

Penulis

Berangkat dari kesadaran pada terbatasnya pengetahuan orang lain (yang berasal dari suku lain) dan juga generasi sekarang yang ada di Tanah Mandar  mengenai nilai dan asal muasal Mandar, maka melalui tulisan yang tidak seberapa ini penulis ingin sedikit memberikan pengetahuan dasar soal asal muasal dan nilai-nilai yang ada pada Suku Mandar agar pengetahuan tentang Mandar tak hanya sebatas wilayah, makanan khas dan tempat wisatanya saja, malah yang paling aneh dibeberapa tempat di Sulawesi orang Mandar justru lebih dikenal dengan Doti (semacam ilmu sihir) nya padahal mitos soal doti atau sihir dimiliki oleh hampir semua suku bangsa yang ada di Indonesia, tidak ada tahu sejak kapan dan mengapa anggapan ini melekat, yang jelas bagi kami selaku orang Mandar kadang-kadang streotip ini sangat merepotkan kami dalam pergaulan sehari-hari terlebih lagi bila hendak ingin memiliki gebetan yang berasal dari suku lain hehe, makanya ini penting diluruskan agar tidak lagi ada streotip seperti ini pada orang Mandar.

Pertama dimulai dengan mengenal apa itu Mandar? darimana asalnya? Apa arti serta nilai yang dikandung dalam penamaannya?

 Langsung saja Mandar ialah sebuah kesatuan etnis yang berasal dari Sulawesi barat di Indonesia, secara etimologis ada beberapa pendapat mengenai asal nama Mandar Merujuk pada Budayawan  Mandar A. Syaiful Sinrang pada karyanya “Mengenal Mandar Sekilas Lintas” yang pertama Mandar berasal dari kata Mandaq yang artinya kuat atau kukuh pengertian ini merujuk pada kukuhnya arus sungai mandar yang berada di Daerah Sulawesi barat, yang kedua Mandar berasal dari kata Mandarang atau yang berarti Terang Benderang dan yang Ketiga Mandar berasal dari kata Sipamandar atau Sipamandaq yang artinya saling menguatkan.

Dahulu pada sekitar abad ke 16-17 ada 14 Kerajaan yang berasal dari 7 kerajaan di pesisir/hilir sungai (pitu ba’bana binanga) yaitu Balanipa, Sendana, Banggae, Pamboang, Tappalang, Mamuju, dan Binuang  dengan 7 kerajaan di pegunungan/hulu sungai (pitu ulunna salu) yang terdiri dari Tabulahang, Rante Bulahang, Aralle, Mambi, Matangnga, Tabang dan Bambang melakukan suatu perjanjian dan membentuk suatu federasi politik  ikatan antar kerajaan yang bersepakat untuk saling melindungi dan menguatkan  atau dikenal dengan istilah Sipamandar yang menjadi asal muasal dari Suku Mandar, pembentukan aliansi kerajaan ini tentunya tidak mereduksi kedaulatan dan kekusasan kerajaan masing-masing makanya tidak ada raja yang dipilih untuk memimpin aliansi kerajaan ini yang paling menarik adalah 14 kerajaan ini memiliki bahasa, kebudayaan dan adat yang berbeda-beda tapi tidak menjadi penghalang mereka untuk menggalang persatuannya sebagai Mandar, momen pertemuan dan perjanjian 14 kerajaaan ini disebut  “Allamungan Batu di Luyo” (Perjanjian di luyo) perjanjian ini dilakukan di desa Luyo yang dulunya masuk wilayah salah satu kerajaan di pesisir yaitu kerajaan Balanipa atau yang sekarang wilayah Kabupaten Polewali Mandar, Ada beberapa faktor yang mendasari pembentukan sebuah federasi kerajaan tersebut salah satunya karena dari 14 kerajaan tersebut percaya bahwa mereka berasal dari nenek moyang yang sama, yang kedua karena kekhawatiran akan datangnya serangan dari luar terutama  soal gencarnya aktifitas lalu lalang armada laut spanyol dan portugis saat itu di wilayah perairan nusantara sehingga dianggap penting untuk membuat suatu persatuan untuk saling menjaga dan melindungi satu sama lain, yang melahirkan penggalan ikrar janji sebagai berikut :

Ada’ tuo di Pitu Ulunna Salu, ada’ mate di muane arana Pitu Ba’bana Binanga

Pitu Ulunna Salu memmata di sawa, Pitu Ba’bana Binanga memmata di mangiwang

Sisarapai mata malotong anna mata mapute, anna sisara Anna sisara Pitu Ulunna Salu, Pitu Ba’bana Binanga

Artinya:

Prinsip hidup yang dipegang teguh di Pitu Ulunna Salu dan prinsip mati dengan mulia di Pitu Ba’bana Binanga

Serupa ular piton menjaga sarangnya seperti itulah Pitu Ulunna Salu, serupa hiu yang menjaga lautnya seperti itulah Pitu Ba’bana Binanga

Seperti bola mata, hitam dan putihnya yang tak akan berpisah seperti itulah pitu ulunna salu dan pitu ba’bana binanga.

Berdasarkan keterangan sejarah di atas jelas bahwa Suku Mandar pada mulanya dibentuk dari sebuah Keyakinan nilai untuk saling melindungi dan menguatkan maka menjadi orang Mandar berarti harus menjadi diri yang dapat menerima perbedaan dan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, nilai inilah yang diwariskan oleh pendahulu kita dari generasi ke generasi, Nilai serupa yang kemudian juga dipakai para pelopor Kemerdekaan bangsa kita dalam membentuk persatuan di Negara ini Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

Referensi :

Buku “Mengenal Mandar Sekilas Lintas” karya A. Syaiful Sinrang
Kajian tentang “Budaya Mandar Jilid II” karya A. M. Mandra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *