TERM OF REFERENCE PENCERAHAN INTELEKTUAL TINGKAT DASAR (PITD) AKBAR

  • DASAR PEMIKIRAN

Pancasila adalah pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila berasal dari dari kata sanskerta, panca yang berarti lima dan sila yang berarti prinsip atau asas,dari lima asas itu menjadi pilar ideologis bagi segenap bangsa Indonesia. Salah satu bunyi pancasila yakni  sila ke-5 Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Maka hal ini menjadi prioritas untuk menjaga tataran bangsa dan negara dalam melakukan suatu tindakan apa yang menjadi tujuan sebagai negara berdemokrasi. Manusia diciptakan oleh Tuhan yang maha esa dengan hak yang melekat dalam dirinya. Namun seiring perkembangan sosial negara Indonesia semakin menampilkan diskriminasi baik pada senyum, perilaku serta tingkatan sosial masyarakat yang sering kali terjadi, yang dimana seseorang dan oknum menganut paham terhadap perbedaan perlakuan sosial sehingga merusak dan mencabut hak asasi orang lain. Pelanggaran hak lainnya juga kerap terjadi di tataran pemerintah, masyarakat dan bahkan di keluarga itu sendiri.

Memahami hak asasi merupakan kewajiban kita semua. Tuhan memberikan hak hidup kepada kita semua dan hak -hak lainnya yang diakui oleh orang lain dan diakui oleh negara . Dalam pelaksanaannya, hak dilaksanakan seiring dengan melaksanakan kewajiban.

Tujuan Negara Republik Indonesia dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea ke-4 salah satunya adalah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Maka hal ini merupakan kewajiban bagi setiap individu dalam menuntut ilmu salah satunya melalui jenjang pendidikan.

Mewabahnya pandemi covid 19 beriringan dengan perkembangan digitalisasi dan globalisasi yang dinamis mengakibatkan perubahan haluan yang besar terhadap proses pendidikan di Indonesia., yang salahsatunya adalah mengakibatkan pemerataan kualitas pendidikan terhambat di Indonesia. Berdasarkan survei UNICEF¹ pada awal Juni terhadap 4.016 responden dari 34 provinsi dengan rentang usia 14-24 tahun, 69% merasa bosan belajar dari rumah (BDR). Selama BDR, responden mengalami dua tantangan utama, yakni 35% kesulitan akses internet dan 38% kurang bimbingan guru. Kemudian, 62% membutuhkan dukungan kuota internet dan 26% membutuhkan dukungan guru. Sementara itu, 87% responden ingin segera kembali ke satuan pendidikan dengan berbagai alasan. Di antaranya, senang metode belajar tatap muka 61%, rindu teman 51% dan bosan di rumah 48%. Sedangkan 59% responden mengaku belum ingin kembali ke satuan pendidikan karena khawatir terpapar covid-19. Sekitar 12% tidak memiliki biaya dan 1% takut perundungan. Berdasarkan data tersebut dapat menghasilkan asumsi yang kuat bahwa dinamika kualitas pendidikan di Indonesia mengalami penurunan dan ini merupakan ancaman yang serius bagi Indonesia, karena pemuda (pelajar dan mahasiswa) yang digalang sebagai calon pelanjut estafet pembangunan di Indonesia kekurangan bekal akademik untuk memberikan konstribusi pada Indonesia kedepannya.

Masifnya perkembangan era digitalisasi saat ini mengakibatkan pemerolehan informasi sangat mudah oleh masyarakat, seolah-olah tanpa sekat hanya membuka gadget dengan jaringan internet yang baik segala informasi dapat diperoleh. Kemajuan ini sangat bermanfaat bagi kehidupan Manusia, mempermudah segala urusan yang ada terlebih untuk memperoleh informasi yang bisa digunakan sebagai wadah pengembangan wawasan pengetahuan seseorang. Namun, di samping manfaat yang besar bagi masyarakat peran globalisasi dapat mendatangkan kebudayaan dari negara asing yang terkadang memiliki nilai-nilai yang bertentangan dengan norma sosial yang berlaku di Indonesia. Hal tersebut lebih dominan dilakukan oleh kalangan pemuda, berdasarkan data yang dimuat dalam penelitian oleh Setyaningsih² bahwa 15-20 persen dari remaja di Indonesia sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah. 15 juta remaja perempuan usia 15-19 tahun melahirkan setiap tahunnya. Hingga Desember 2016 telah tercatat 6332 kasus AIDS dan 4527 kasus HIV positif di Indonesia, dengan 78,8 persen dari kasus-kasus baru yang terlaporkan berasal dari usia 15-29 tahun. Diperkirakan terdapat sekitar 270.000 pekerja seks perempuan yang ada di Indonesia, di mana lebih dari 60 persen adalah berusia 24 tahun atau kurang, dan 30 persen berusia 15 tahun atau kurang. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia di mana 20 persen diantaranya adalah aborsi yang dilakukan oleh remaja.

Berdasarkan data kepolisian, setiap tahun penggunaan narkoba selalu naik. Korban paling banyak berasal dari kelompok remaja, sekitar 14 ribu orang atau 19% dari keseluruhan pengguna. Jumlah kasus kriminal yang dilakukan anak-anak dan remaja tercatat 1.150 sementara pada 2016 hanya 713 kasus. Ini berarti ada peningkatan 437 kasus. Jenis kasus kejahatan itu antara lain pencurian, narkoba, pembunuhan dan pemerkosaan. Dan sejak Januari hingga Oktober 2016, Kriminalitas yang dilakukan oleh remaja meningkat 35% dibandingkan tahun sebelumnya, Pelakunya rata-rata berusia 13 hingga 17 tahun,

Di masa pandemic Covid-19 pun kita bisa melihat berbagai fenomena degradasi moral yang dialami oleh kalangan pelajar dan mahasiswa, kita mudah mendapatinya di sosial media. Seperti pelajar/mahasiswa tidak menggunakan bahasa yang sopan serta terkadang menggunakan bahasa gaul anak muda yang mungkin guru sendiri tidak mengerti apa maksud dari kata tersebut. Mereka menghubungi pada jam istirahat dan bahkan tidak meminta izin terlebih dahulu ketika hendak menelepon atau video call. Tak sedikit dari pelajar mengira bahwa hal tersebut adalah wajar, mereka belum mengerti etika yang baik dan benar saat menghubungi guru. Hal tersebut tentunya memerlukan perhatian dan pengarahan dari orang tua.

Dalam dunia kerja, segala sesuatu yang berkaitan antara individu dengan dunia luar sangat tidak asing dengan keberadaan teknologi untuk membantu segala urusan mereka. Teknologi dan kemajuannya yang pesat sangatlah membantu kehidupan manusia, bahkan dengan kemajuan teknologi yang adapun bisa menciptakan peluang untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah tanpa harus meninggalkan rumah sekalipun. Namun mungkin tanpa kita sadari, teknologi yang ada saat ini bisa berubah menjadi sebuah ancaman tersendiri,jika teknologi tersebut tidak mampu dikelola dan justru menguasai kita.

Dapat kita lihat di sekitaran lingkungan kebanyakan dari kita menyalahgunakan pemanfaatan teknologi, salah satunya ialah banyak pelajar dan mahasiswa yang sibuk bermain game online. Kecanduan game online merupakan fenomena baru yang meningkat selama Pandemic Covid-19 salah satu akibat serius dari perilaku ini ialah terjadinya kerusakan pada Pre-frontal Cortex salah satu bagian pada otak yang berfungsi untuk berperan dalam ekspresi verbal, ingatan, abstraksi, dan kemampuan untuk memahami hubungan spasial antara diri dan lingkungan seseorang, jika bagian ini mengalami kerusakan maka penderita akan mengalami kesulitan berpikir, dan sukar  mengontrol diri dalam berperilaku sosial. Selanjutnya, teknologi yang ada membuat mereka menjadi pribadi yang lebih mengutamakn diri sendiri, jauh dari kehidupan sosial secara langsung, bahkan ada yang sampai menjadikan teknologi atau lebih tepatnya media sosial itu sebagai pengganti keluarga, orangtua dan teman. Fenomena ini menjadi sangat ironi, mengenai permasalahan sosial yang terjadi. Ketika perkembangan zaman makin dinamis dengan berbagai teknologinya, kita masih sibuk bergelut dengan sumber daya manusia yang idealnya menjadi solusi dan pembaharu untuk memecahkan persoalan.

Maka dari itu, untuk menjawab segala tantangan yang dialami pada kontemporasi zaman saat ini, agar kepribadian sebagai bangsa Indonesia tidak tergerus oleh pengaruh globalisasi adalah dengan memberikan penanaman nilai-nilai pokok Pancasila sebagai panduan hidup bangsa Indonesia kepada seluruh masyarakat Indonesia terkhusus untuk bagi kalangan anak-anak, remaja, dan dewasa sebagai pembekalan upaya filtering terhadap segala informasi dan budaya yang sesuai dengan integritas kepribadian sebagai warga negara Indonesia.

Ancaman serius bagi Indonesia jika pandemic Covid-19 dijadikan alasan sebagai kewajaran atas kemunduran yang terjadi, sebab kedepannya negara-negara akan saling berkompetisi dalam persaingan pasar global dan pembangunan teknologi untuk memajukan taraf kehidupan negaranya masing-masing. Maka dari itu, pembekalan kepada pemuda akan pentingnya nilai-nilai keilmuan, dan kebudayaan sebagai bekal di masa yang akan datang serta menjunjung tinggi integritas kepribadian warga negara Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Berdasarkan fungsi sebuah organisasi sebagai wadah dalam menjalankan kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat, organisasi kemasyarakatan berpartisipasi dalam pembangunan untuk mewujudkan tujuan nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Secara terperinci yang tertuang dalam UU No. 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan bahwasanya organisasi dibentuk untuk meningkatkan partisipasi dan keberdayaan masyarakat; memberikan pelayanan kepada masyarakat; menjaga nilai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; melestarikan dan memelihara norma, nilai, moral, etika, dan budaya yang hidup dalam masyarakat; melestarikan sumber daya alam dan lingkungan hidup; mengembangkan kesetiakawanan sosial, gotong royong, dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat; menjaga, memelihara, dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa; dan mewujudkan tujuan negara.

Maka IM3I mengambil porsi untuk turut berbakti kepada bangsa dan negara berdasarkan tujuan IM3I sebagai kelembagaan yang menciptakan kesatuan dan kebersamaan sesama mahasiswa untuk mewujudkan intelektual muda yang aktif, kreatif dan inovatif yang menjunjung tinggi rasa tanggung jawab, moralitas, keadilan serta berwawasan global dan berorientasi masa depan.

Siklus roda keorganisasian senantiasa berputar, Kepengurusan organisasi setiap tahun akan berganti menuju generasi selanjutnya. Untuk melanjutkan estafet kepengurusan di perlukan pembekalan agar kader selanjutnya mampu menjaga nilai-nilai dasar lembaga serta mampu menjalankan lembaga lebih baik lagi. Kaderisasi memiliki peranan vital untuk menjamin sumber daya manusia yang baru akan memiliki kemampuan yang mumpuni baik dalam hardskill maupun softskillnya. Suatu organisasi tak akan pernah berjalan dengan baik apabila proses regenerasinya tidak berjalan dengan lancar. Proses regenerasi yang baik pun tidak akan bisa terlaksana tanpa tersedianya sumber daya manusia yang mumpuninya untuk melanjutkan estafet kepengurusan.

Dengan demikian, Kegiatan Pencerahan Intelektual Tingkat Dasar yang disingkat PITD dilaksanakan sebagai wadah pembekalan dan pengembangan potensi intelektual kader untuk menyadari realitas sosial dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Mahasiswa yang tergabung dipersiapkan untuk menghadapi segala dinamika persoalan dan mampu berkonstribusi memberikan solusi ilmiah demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Secara khusus PITD merupakan  syarat untuk menjadi Anggota Penuh kelembagaan Ikatan Mahasiswa Mandar Majene Indonesia (IM3I), sehingga bagi para kader yang ingin berpartisipasi aktif dalam kepengurusan dan melanjutkan jenjang Pencerahan Intelektual Tingkat Lanjut (PITL) wajib mengikuti program PITD. Kaderisasi berperan penting dalam regenerasi organisasi karena fungsi kaderisasi bukan hanya menjaring anggota dan membuat anggota memahami nilai-nilai organisasi namun juga kaderisasi membuat anggota siap dan mampu untuk meneruskan kepengurusan selanjutnya dengan sebaik mungkin.

  • TEMA KEGIATAN

Program Pencerahan Intelektual Tingkat Dasar (PITD) ini mengangkat tema : “MENUMBUHKAN SEMANGAT ORGANISATORIS BERINTELEKTUAL, DAN BERKARAKTER PANCASILA DALAM MENGHADAPI TANTANGAN DINAMIKA PERUBAHAN ZAMAN ”

  • KEGIATAN

Program PITD merupakan rangkaian dari beberapa kegiatan secara berkesinambungan, berupa:

  1. Pembuatan konsep dan monitoring persiapan teknis
  2. Pendaftaran Peserta PITD Akbar 2021
  3. Technical Meeting PITD
  4. Pelaksanaan PITD
  • SYARAT DAN KETENTUAN PENDAFTARAN
  • Mengisi formulir pendaftaran yang disediakan oleh panitia pelaksana PITD
  • Mengisi surat izin orang tua yang disedikan oleh panitia pelaksana PITD
  • Mematuhi Protokol Kesehatan.

 

  • DIMENSI MATERI
  • Keilmuan (Landasan Kerangka Berfikir Ilmiah)
  • Kemahasiswaan (Sejarah pergerakan kemahasiswaan, dan pemahaman nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi)
  • Keorganisasian (Konsep Dasar Keorganisasian)
  • Kebudayaan (Nilai-nilai Ke-Mandaran dalam kehidupan berpancasila, dan menelaah nilai-nilai kemandaran sebagai sifat kepemimpinan)
  • Ke-IM3I-an (Sejarah IM3I, Tujuan IM3I, dan Nilai-nilai IM3I dalam implementasi kemasyarakatan)
  • Era Disrupsi (Pengenalan dan Strategi untuk Menghadapinya)

 

  • JADWAL PELAKSANAAN

Pendaftaran                       : 3 Juni – 1 Juli 2021 (di formulir online yang disediakan panitia)

Pelaksanaan                      : Jumat – Minggu, 2 – 4 Juli 2021

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *