Belenggu Delusi




Angan yang tak berujung

Pagi yang indah, disertai sinar segar nan sejuk mentari pagi yang terpapar di wajah, sungguh suasana yang menenangkan. Tapi…. Pagi yang indah tanpa tidur selama beberapa hari apakah benar – benar indah? Sinar matahari yang harusnya sejuk di wajah, tetapi begitu memerihkan mata, apakah benar – benar sejuk?? Tidak. Semua hanyalah sebuah penderitaan yang tertutupi oleh keelokan dan kebohongan yang telah membuat kita terbiasa akan hal itu. Kesadaran – kesadaran kecil seperti ini membawaku melintasi persoalan – persoalan di seberang sana.

Hal sekecil ini telah dapat membuatku melihat lebih jauh dalam dari dasar palung mariana. Disana banyak PlotTwist yang akan kalian ketahui, seperti para pemegang kendali yang tinggal dalam ruang megah dengan kelengkapan berlebih, bahkan dalam sangkar sekalipun dan para penumpang belakang yang bahkan hanya sekedar duduk pun sekujur tubuh mereka terasa Lelah.

Kita memanglah tak pernah diperlihatkan bagaimana sistem dan mekanisme mesin itu bekerja. Tapi, yang terpenting sebelum itu adalah apakah semuanya benar – benar bekerja?. Ataukah kita yang masih belum cukup sadar untuk ingin melihatnya? Atau bahkan sekedar hanya ingin mengetahuinya??

Para pemegang kendali terasa Otoriter, demokrasi bahkan sudah tak terasa lagi. Bagaikan diktator ulung yang mencoba mengambil alih Segalanya. Mereka yang tak menerima kritik maupun saran, mulai Sok–Sok-an membicarakan tentang “keadilan!” “Kesetaraan!” Bahkan “Kesejahteraan!” Yang Sebagian dari kami menyadari bahwa itu hanyalah sebuah obat bius akan kesadaran kami. Alih – alih berbicara kesejahteraan, kebebasan saja tak pernah diberikan, bahkan Langkah – Langkah kami pun ditata sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan meraka. Kami, atau bahkan kita semua, hanya akan dihampiri saat mereka tengah berjalan memasuki ruang kontrol.

Semua dikuasai oleh rasa kepemilikan yang tidak nyata, yang sebenarnya hanyalah rasa tamak akan harta dan jabatan yang telah kita (manusia) buat sendiri. yah.. tanpa kita sadari saat ini kita tengah dikuasai oleh sebuah konsepsi – konsepsi yang telah kita buat.

Yang menjadi salah satu tanda tanya besar adalah hal – hal yang ada di kota, salah satunya ialah bangunan – bangunan megah (hotel, mall, tempat hiburan dan lain – lain) berdiri kokoh di tepian jalan yang dipenuhi dengan orang – orang yang berjalan dengan kepala berdongak bak seekor jerapah, tapi… yang menjadi inti sebenarnya adalah kemana penghuni sebelumnya? Kemana orang – orang yang lahir dan besar di tempat itu? Apakah mereka masih dimiliki atau menetap di Planet ini?? Entahlah, tapi katanya mereka tlah berpindah ke pojok Lorong Sempit nan Kumuh, yang bahkan, pendatang di kota ini pun tak ingin berkunjung ke sana.

Di tempat para nenek moyang kita belajar berjalan ini, seharusnya dipenuhi bangunan – bangunan yang bahkan dari jenis kayu, motif dan bentuk jendelanya pun memiliki arti dan makna yang mendalam. Kemana 34 rumah adat Indonesia yang menjadi kekayaannya? Semua telah tergantikan oleh susunan batu yang hanya mementingkan estetika dan uang mereka dibalik ketertindasan itu. Anehnya, dari 275.361.267 Jiwa yang 23,90% -nya merupakan para Pemuda, masih rsedikit orang yang sadar akan hal itu, bahkan hanya untuk memikirkan nyanyian pengantar tidur yang dinyanyikan oleh kakek/nenek untuk ibunya pun sudah tak ada, dan membayangkan ayah dari kakeknya yang dengan gagah berani melawan para kolonial hingga memimpikannya dalam tidurnya. Pikiran – pikiran yang hampir punah itu harus dilestarikan, bagaikan badak bercula satu yang diburu demi hanya sebuah cula. Harganya memanglah mahal, cukup untuk memenuhi kebutuhan kita di negara yang terbungkus kapitalis ini, tapi bayangkan jika itu terus menerus terjadi (sampai tak ada lagi badak bercula yang tersisa)? Tentu saja tak ada lagi Badak Bercula Satu yang dapat disaksikan oleh anak cucu kita nanti. Dan lucunya adalah saat mereka telah mengetahui sebuah kebenaran, bahwa yang memusnahkannya adalah, Kita Sendiri. Kemana 23,90% (64,91 Juta) Pemuda Indonesia yang seharusnya memikirkan hal tersebut?…..

Kapan dan dimana semuanya ber-mula? Dan apa yang telah membawa kita ke arah yang tak seharusnya ini? Apakah teknologi? atau Ekonomi? ataukah Kepentingan para birokrat yang mencakup segalanya? dan sampai kapankah semua Penindasan di balik tirai ini akan berlangsung?  Apakah kita akan terus terjebak dengan ketidak pedulian akan sekitar kita? Beberapa pertanyaan dari tulisan ini mungkin saja hadir di kepala kalian, namun semuanya berlalu begitu saja. Pertanyaan – pertanyaan itu harus tertanam pada jutaan pelurus bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *